KEMBALI KE INTROSPEKSI DIRI ^_^



Beberapa hari ini kita diramaikan dengan kasus penembakan di LP Sleman Yogyakarta. Semua orang mengeluarkan pendapat. Bebas. Sesuai pemikiran masing-masing. Sayapun salah satu mahasiswa NTT yang merantau dan hidup di luar NTT menanggapi ini. Awalnya saya tidak tahu karena saya tidak sempat melihat berita di TV. Malam sebelum kejadian penembakan itu, teman saya yang juga kebetulan kuliah di Jogja menelpon untuk menceritakan kasus ini. Tapi, karena dia tau saya kelelahan setelah bekerja, dia memutuskan untuk tidak bercerita lebih lama di telpon. Paginya setelah melihat teman-teman di media sosial meng-up date status dan photo korban, baru saya berinisiatif untuk menanyakan kasus ini ke teman saya, saya pun mengakses beberapa media sosial di internet untuk mengetahui kasus ini. Saat pertama kali melihat kasus ini yang timbul di pikiran saya adalah KASIHAN. Kasihan dengan korban, Kasihan dengan orang tua korban, kasihan dengan nasib anak NTT di pulau Jawa (khususnya di Jogja waktu itu) dan kasihan dengan image masyarat NTT di pulau Jawa. Hal ini yang selalu saya tekankan dan saya pikirkan dan yang selalu saya tanam di otak saya. Sayang memang karena anak NTT, pemuda NTT yang seharusny membangun daerah NTT dan mengangakat nama NTT dan merubah, mengeluarkan NTT dari keterpurukan. Bayangkan saja kita anak NTT memiliki jiwa pemberani dan sebenarnya kita memiliki otak cerdas tapi itu semua dimanfaatkan pada hal-hal yang sangat merugikan diri kita sendiri, orang tua, bahkan nama NTT tercinta. Kita ini anak rantauan. Yang saya belajar dari pengalaman saya selama 3 tahun sebagai perantau yaitu belajar bertoleransi dan belajar sabar. Saya tidak bermaksud menggurui tapi saya sangat menyayangkan jika anak NTT dicap anarkisme atau apalah sejenis itu. Kita sering mendengar perkataan masuk kandang kambing mengembik masuk kandang ayam berkokok. Ini bukan berarti kita menjadi kacang lupa kulit, tapi kita beradaptasi atau belajar. Tidak ada salahnya kita mengadopsi hal-hal positif yang orang lain punya dan juga belajar mengurangi rasa ego kita sebagai mayoritas pada saat kita di daerah NTT tercinta. Saya mohon maaf. Saya bukannya tidak berpihak pada NTT atau bahkan tidak respect dengan korban penembakan. Tapi yang saya pikirkan adalah something happen for a reason (Segala hal yang terjadi ada alasannya). Saya berharap ini jadi pelajaran bagi kita sebagai pemuda NTT yang berada di luar daerah. Untuk lebih pintar dan lebih cerdas memilih bagaimana cara merubah image anak NTT di pulau Jawa khususnya. Pikirkan saja dengan kekurangan dan keterbatasan materi, orangtua merelakan kita belajar sampai keluar pulau agar kita bisa belajar. Bukan hanya belajar materi dan ilmu yang kita dapat pada bangku pendidikan tapi belajar bagaimana hidup dan bersosialisasi dengan orang yang tidak sama dengan kita. Sayapun mengalami masa-masa dimana “mereka” menganggap saya adalah anak NTT yang pulaunya kecil yang jangkauan paradaban hanya setenga-setengah. Tapi disinilah kita harus belajar bagaimana caranya kita merubah pola pikir mereka yang negatif tentang anak NTT menjadi ooh.. ternyata tidak selamanya anak NTT .... dst... ternyata kamu beda dengan yang lainnya.. wah anak NTT ... dst. Kata-kata ini harusnya kita dapatakan dari mereka yang awalnya hanya memandang sebelah mata. Teman kerja saya seorang dokter gigi yang pernah praktek di NTTpun ikut bicara. Kebetulan dia pernah praktek di pulau Sumba Barat. Kita sendiri tau bagaimana rawannya pulau Sumba Barat dengan aksi penggal memenggal. Dia tahu bagaimana kehidupan di sana. Dia tau bagaimana kehidupan remaja di sana. Dia bercerita kasus penggal kepala untuk  kasus sengketa perbatasan, seolah-olah NTT memang telah terbiasa dengan kekerasan. Sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Jika NTT menuntut kasus HAM saya setuju. Ya saya mendukung. Tapi saya menghimbau agar kita juga sedikit mengintrospeksi diri kita. Kita marah karena sedih dengan kejadian ini. Kita marah pada hukum Indonesia yang tidak adil. Tapi maukah kita mengintrospeksi diri kita sebagai pemuda NTT apa yang sudah kita buat agar orang memandang hormat pada NTT dan tidak menganggap remeh anak NTT??? Mari kita renungkan bersama-sama teman. I LOVE NTT


Ikut berbela sungakawa 4 pemuda NTT yang tertembak. RIP teman




Ratna Paramita N ^_^
Jl. Sidotopo Kepanjen Malang
Twitter @ParamitaNz
Facebook Paramita Henry
Blogger http://paramitanz.blogspot.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku 2 : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat - Mark Manson

Ba

Review Buku 1: The Best Of Me