MY LIFE HAS CHANGE (Kebangaan Atau Bencana?)
Semua berubah.
seperti biasa vanila latte selalu
menemani di depan layar komputer. tapi telah berbeda. berbeda cara penyajiannya
dan lokasinya. Setiap pagi vanila latte akan menjadi aroma khas di ruangan
kantor saya. Tapi itu dulu. ya.. dulu beberapa bulan yang lalu. pagi ini tanggal
02 November 2015 ditengah hiruk pikuk dan kicauan burung dari balik jendela
asrama Universitas Indonesia aroma tanah kering diguyur hujan semalam (hhmmm i
love that smell just like chrsitmas) di barengi aroma vanila latte aku mulai
melanjutkan menulis blogger yang sudah lama fakum. sebenarnya ada rasa gentar
dalam pikiran. hati bertekat melanjutkan semua mimpi dan ini mimpi yang sudah
dipendam sejak lulus D3 di Malang. aku berniat memang melanjutkan studi setelah
setahun bekerja dan Puji Tuhan sudah terlaksanakan. but why? kenapa? apa yang
salah? nekat? jelas. Tanpa persiapan? jika menunggu siap aku selalu merasa
tidak siap. waktunya tidak tepat? tapi kesempatan tidak datang dua kali. semua
pertanyaan ini memenuhi benak hingga berat. aku mengingat tulisan tanggal 06
September 2015. kala itu aku termenung seolah ingin menangis bahkan telah
menangis. Jakarta anginnya begitu kencang membuat mataku berair. dalam
tulisanku itu aku bertanya salahkah ditengah keterbatasan aku memaksakan meraih
impian yang selalu memotifasiku untuk terus berusaha give my best. mereka
orangtuaku mereka bangga ya itu tujuanku tapi aku berharap mereka bisa berbangga
saat aku lulus dari kampus ini(Amin). oh God... dilema macam apa ini??? rasa
bersalah dan tanggung jawab terpatri di dalam batin. Tuhan kuatkanlah mereka
(orangtuaku) dan juga aku. ku sebut “papa dan mama” di satu helaan nafas mataku
berkaca – kaca. salahkah keputusan ini? terlambatkah keputusan ini? atau bahkan
terlalu cepat? ku bayangkan wajah mereka ya Tuhan . . . . tak sanggup ku
lanjutkan tulisaan ini. mataku tertutup air mata. sehatkah kalian di sana?
bertahanlah barang sebentar. akan ku usahakan lulus segera agar kalian dapat
menarik nafas lega dan senyum kebanggan kan ku toreh di wajah kalian. Tuhan
Yesus . . . sehatkan dan panjangkan umur kedua orangtuaku.
tulisan di hari itu
benar – benar menunjukkan kerapuhanku. aku menjalani semester pertamaku dengan
dilema. aku takut. tapi ini sudah menjadi tanggung jawab untuk ku melanjutkan
dan menyelesaikan mimpi yang sudah aku(paksakan) mulai dan jalani hingga akhir.
ini keputusanku.
“miskin harta mungkin,
miskin ilmu JANGAN!!!
Jakarta,
Paramitahenry@gmail.com
Komentar