Think (25th)
Sebenarnya udah lama banget pengen
nulis ini tapi ke distract sama sosmed lain pas buka gadget haha
Dan semua berawal dari tadi
ketemuan sama teman setelah sekian bulan liburan dan baru tadi ketemuan lagi.
Kita sering cerita tentang hal – hal pribadi lebih banyak tentang pasangan.
Sebelum liburan 3 bulan lalu kita berdua punya janji dan semacam taruhan
traktiran. Jadi ceritanya dia akan mentraktir saya kalau cowok yang sering dia
ceritakan itu menyatakan cintanya dan begitu sebaliknya jika tidak maka saya kalah
dan mentraktirnya. Tadi pas ketemuan kita saling menebak dan ternyata saya
kalah pemirsa haha. oke next. Actually that’s not the point that i want to tell
you tapi sebagai pembukaan lah ya...
Setelah beberapa menit bercerita
diselingi teriakan dan tertawa ngakak (gaya khas perempuan kalau sedang
bercerita tentang hal yang menyangkut perasaan) dan akhirnya sayapun bercerita.
Sebenarnya hanya ingin dia merasa tidak sedih sendiri karena sayapun
beberapa minggu yang lalu “let him go” lebih tepatnya "i am quit"(mulai nih curhatnya haha) tapi wajar lah
ya. Btw catatan penting saya sudah tidak sakit hati atau galau atau apalah
istilah anak sekarang yang menyangkut perasaan tidak enak, perlu ditekankan
saya sudah sangat MOVE ON.
Baiklah langsung aja ke topik ya,
saya sebenarnya ingin membahas tentang pasangan ideal saya. Sebenarnya saya
tidak tau apa pandangan tentang pasangan hidup bagi mereka yang sudah menikah
dan merasakan bagaimana seharusnya menjalani hidup bersama orang yang kita
sayangi bahkan cintai dan saling menopang. Saya pernah dibilangi teman saya “lu
pasang standart ketinggian sih Mit” menurut saya relatif dari sisi mana
seseorang melihat apa yang saya harapkan dari pasangan saya. Bagi saya kita
memiliki kebutuhan yang berbeda – beda tentang pasangan hidup. Pasangan yang
saya harapkan belum tentu sama dengan yang teman saya harapkan atau orang lain
harapkan. Karena kita dengan kebutuhan yang berbeda berasal dari latar
belakang, masa lalu, trauma yang berbeda pula. Saya menyadari bahwa tidak ada
manusia sempurna bahkan sayapun tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna bagi
seseorang. Maaf ya bahasannya sudah mulai agak berat(mungkin). Saya tidak tahu
bagaimana perasaan teman – teman lain saat mereka mulai menapaki usia 25 tahun.
Tapi entahlah mengapa saya merasa usia yang bisa dibilang sudah siap menikah.
Tidak munafik bahwa saya telah menggumuli pasangan hidup saya dan mulai sangat
mengkawatirkan siapa, di mana, bagaiamana, dan blah blah blah.
Jadi seperti ini. Bagi saya
seseorang butuh kebebasan(saya pun demikian) sehingga saya tidak pernah
melarang ataupun membatasi sesorang(ketika kita sedang menjalani hubungan
serius) untuk mengaktualisasi diri, bergaul dan melakukan kegiatan apapun yang
dia suka(positive thing). Namun saya berharap dalam hubungan yang serius dan dewasa
apakah perlu kita saling mengingatkan untuk memperhatikan mana yang prioritas
mana yanga tidak? Bukankah semua manusia memiliki naluri untuk menganalisa
sesuai kebutuhan dirinya? Dalam suatu hubungan orang yang kita anggap he/she is
my destiny akan otomatis masuk dalam daftar prioritas kita. Teman saya tadi
bertanya kamu kenapa(baca : hubungan kamu kenapa)? Saya spontan menjawab saya
sudah pada usia yang menjalin hubungan bukan untuk status. Saya tidak berharap
seseorang yang sempurna. Yang saya harapkan adalah seseorang yang mendukung
saya. Dan kita saling menopang. Bagaimana suatu hubungan dikatakan serius jika
kamu masih lebih mencintai dirimu, egomu, dan duniamu. Bahkan yang
seharusnya(menurut saya) pasangan itu menjadi sandaran. Maksud saya bukan membantu
membayar kuliah atau membelikan sesuatu dan hal lain yang menyangkut finansial
(seperti yang saya lihat kebanyakan teman saya) tapi jadi orang pertama yang
saya tuju saat saya butuh tempat mengeluh, tempat cerita, tempat menangis, tempat
berkeluh kesah, orang pertama yang saya datangi saat bahagia. Dan sayapun akan
bahagia jika saya diperlakukan seperti itu karena bagi saya hal seperti itu
terjadi karena derajat kepercayaan kita terhadap pasangan tidak perlu diragukan
lagi.
Sebagai perempuan perantau saya
terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Dari yang gampang hingga menggambil
keputusan yang berkaitan dengan hidup saya di rantau. Tapi saya tidak berharap
memilik pasangan yang merasa saya adalah perempuan mandiri sehingga tidak perlu
dibantu atau karena saya sudah bisa mengambil keputusan sendiri dan jika diajak
cerita malah saya dibilang kurang bersyukur dan suka mengeluh (hello please!!!
Anda perlu tahu bahwa saya perempuan kuat dan mandiri. Setiap orang pasti ada
titk NOL dalam hidupnya saat dia bener – bener capek berjuang. Trus gw mau
nangis ke sapa kalo bukan ke elo orang yang paling deket ama gw) btw ini
ceritanya uda kayak protes haha lanjut aja ya timbang ngedumel sendiri. Sayapun
bilang sama teman saya, saya kuat, saya bisa ngapa – ngapain sendiri tapi saya
butuh ada yang sekedar menggenggam tangan saya menyembunyikan tubuh kecil saya
di dalam pelukannya dan yakinkan bahwa saya tidak berjuang sendiri (aw aw aw)
or just say everythings gonna be OK.
Entahlah, saya sangat nyaman
dengan beberapa teman(laki-laki) dekat saya. Mereka tidak peduli seberapa kuat
saya, seberapa mandirinya saya, mereka tetap menganggap saya perempuan yang
perlu dibantu. Hey guys ya all touch my heart. Dan saya sangat berharap
pasangan saya nantinya seperti itu. Sengototnya saya bisa melakukannya sendiri
lebih ngotot dia yang beranggapan saya perempuan yang sedang butuh
bantuan(baiklah ini sudah lebih ke hayalan) No! saya ingin pasangan saya tau
diri seperti itu.(Titik)
Ini bukan konteks
meremehkan(perempuan sebagai makluk lemah) tapi konteks kebutuhan saya akan
pasangan saya
Jakarta, 20 September 2016 (01:22
AM)
Dalam keadaan:berasa ada tambang
emas dalam telinga (sakit musim dingin, berasa nyut nyut akibat perang antara inflamasi
dan pertahanan tubuh)
Komentar
Baca blognya mita, terutama yg ini bikin aku terharu..hehe
Sesuatu yang juga hampir mirip aku alami.
Sampai saat ini masih mengalami pergumulan untuk mendapatkan pasangan yang terbaik, di satu sisi kerasnya hidup membuat kita (aku, terutama) merasa sangat membutuhkan pasangan yg bisa jadi pegangan dan tempat bersandar, sekuat dan semandiri apapun diri kita (setuju ama mita yg satu ini).
Aq juga miss u so much bu :)
Iya bu aq merasa (mungkin) bahasannya terlalu berat untuk perempuan usiaku. Tapi semakin banyak tantangan yang kita hadapi sekarang semakin membuat aq membutuhkan seseorang yg sekedar ada nemanin aq hadapi itu.
Iya tapi beberapa laki2 yg bt temui malah merasa bahwa karena sudah mandiri snde perlu trllu dicemaskan. Mungkin blm ketwmu yang pas hehe... trimksih k Esti ��