Compare
Hallo, selamat malam musim dingin
dibulan Desember. Desember 2017.
Waktu berjalan begitu cepat dan
kesadaran penyesalan yang mulai datang terlambat dimana kita mulai sadar ini
penghujung tahun dan menyesal merasa tidak produktif “selama
setahun ini ngapain aja?”
Seperti biasa, saya tahun ini
tidak terlalu produktif dalam hal membaca dan menulis, masih sama seperti tahun
– tahun sebelumnya. Cukup tahu diri dan tidak akan menyebutkan alasan untuk
pembelaan.
Tahun ini, hampir dilewati walau
tersendat – sendat tapi ada capaian, perubahan, hal baru, pengalaman,
pelajaran, kehilangan dan lainnya. Tiba – tiba terpikirkan tentang percakapan
kemarin malam dengan seseorang. Sebelum melanjutkan menceritakan percakapan tentang
apa, ada sedikit review suatu hal yang pernah kita alami dan lakukan dalam
hidup.
Yaitu membandingkan. Hal membandingkan adalah hal yang semua orang
dilakukan. Anak – anak biasanya membandingkan siapa yang paling dia sayang
entah kakak ataupun orang yang sering bermain dengannya. Bagi seorang remaja mungkin
lebih ke arah lebih senang belajar atau hang
out dengan teman – teman tertentu setelah melalui tahap perbandingan dan
pilihannya akan jatuh pada yang lebih “menguntungkan” atau lebih friendly. Seorang dewasa tentunya akan
sangat luas, mulai dari hal yang paling kecil seperti berbelanja, membandingkan
antara kebutuhan dan keinginan hingga hal membandingkan untuk sesuatu yang
sangat besar seperti pilihan masa depan ataupun jodoh.
Biasanya yang saya temui dan saya
alami membandingkan teori dan benda masih etis dilakukan, namun jika sudah
membandingkan manusia, asal orang yang bersangkutan tidak tahu sedang
dibandingkan atau mungkin dibandingkan untuk tujuan khusus dan atau atas
persetujuan orang tersebut.
Jujur saja, saya secara pribadi
agak tidak nyaman jika saya dibandingkan dengan orang lain. Apalagi dibandingkan
dengan orang yang dekat dengan saya atau orang yang saya anggap saingan.
Nah, saya akan melanjutkan cerita
sebelumnya. Percakapan dengan seseorang ini memang secara tidak langsung
berbicara tentang membandingkan. Namun, hasil percakapan itu membuat otak saya
berpikir tentang “membandingkan” hingga malam ini.
Kita tentunya bertemu dengan
banyak orang dalam hidup kita, apalagi bagi manusia dewasa yang sedang
memikirkan tentang menikah. Kita memang tidak membicarakan secara gamblang tapi
otak kita pasti akan membandingkan. Yah, katakankanlah menimbang – nimbang mana
yang akan kita pilih. Atau kenapa yang ini begini tapi yang ini tidak, kenapa
yang satu bisa tapi yang lain tidak, atau apa positif negatif antara yang ini dengan
yang itu.
Berbicara tentang membandingkan,
saya sempat menyangkal dalam otak saya, saya tidak sedang membandingkan mereka.
Kemudian timbul lagi pikiran; Kenapa kita tidak suka dibandingkan? Kenapa kita
terlalu egois untuk hanya mendengar atau mengetahui kelebihan orang dan
kekurangan kita. Sayapun menganut pemahaman bahwa setiap orang diciptakan
berbeda dengan kelebihan dan kekurangan yang tentunya tidak sama pula. Namun,
tetap saja kenapa kita tidak bisa berjiwa ksatria menerima dan mendengar
kelebihan orang apalagi itu merupakan kekurangan kita?
Ada sederetan kalimat yang saya
suka dari welcome words di blogger ka Sandra Frans yang saya pahami
seperti begini “kita memang tidak sempurna, kita memang tidak dilahirkan
sebagai angka sepuluh, tapi kita dibekali akal budi agar kita berusaha mencapai
yang terbaik dan mendekati angka sepuluh”. Tapi, Bagaimana kita bisa mengejar
angka sepuluh jika kita tidak tertarik ingin tahu kelemahan kita? Kita terlalu
egois untuk menerima kekurangan kita. Kita tidak cukup berani untuk belajar
dari kelebihan orang lain. Kita terlalu pengecut untuk memperbaiki kekurangan kita
dari kelebihan orang lain, apalagi jika dia adalah saingan kita.
Saya terlalu banyak cuap – cuap yang
kesannya cerewet. Saya hanya sedang menuangkan isi pikiran saya hasil nasehat
untuk diri saya kemarin malam.
Jadi seperti itulah teman – teman
pembaca, inti dari semuanya yang saya tuliskan di atas adalah saya harus
belajar untuk menerima dibandingkan dengan orang lain. Itu semua demi
mengoptimalkan kualitas diri saya.
Tulisan ini dibuat sambil
menunggu akses internet selesai dimantenaince, dan saya sedang menghayal
merayakan natal di suasana salju, dan akhirnya ngalor ngidul hehe J
Paramita Henry Nz
Jagakarsa, Desember 2017
Komentar