Review Buku 1: The Best Of Me
Hi, Hallo,
Sesuai janji saya pada postingan terakhir, tentang menuangkan isi pikiran/pengalaman saat membaca buku. kebetulan tadi malam saya (akhirnya) menyelesaikan satu buku yang sudah saya sebutkan pada judul "The Best Of Me". Novel terjemahan karangan Nicholas Sparks yang sudah difilmkan. Jujur saja akhirnya saya menyelesaikan buku ini dengan sangat terpaksa. Saya tidak terlalu tertarik dengan buku drama percintaan. Namun saya memutuskan meminjam ini dari teman saya karena dia sebagai penggemar buku drama percintaan bilang kalau ini bagus, "Gw ampe nangis Mit" katanya. Well, karena saat itu saya juga kehabisan stok buku bacaan di awal pandemi dan belum hunting buku bacaan yang baru maka saya memutuskan baca dari pada tidak sama sekali.
Awalnya, setelah sepintas melihat sinopsis buku ini, saya menyimpulkan alurnya yaitu sepasang kekasih yang saling mencintai namun tidak disetujui keluarga si perempuan karena laki-laki ini memiliki treck record keluarga yang buruk (penjahat) bahkan dia pernah tidak sengaja pernah menabrak satu-satunya dokter di desa itu yang membuat dia terperangkap dalam penjara. ah Okay kita masih membahas sipnosis maka saya akan menceritakan secara umum saja. Mereka kemudian bertemu kembali setelah bertahun tahun lamanya dan si perempuan ini sudah menikah dan memiliki 3 anak. Mereka bertemu dan konflik yang diciptakan buku ini adalah perempuan ini masih mencintai cinta semasa remajanya dan mereka masih saling mencintai namun dia telah menikah. Perang batin. Konflik yang dapat kita rasakan karena hal yang umum terjadi.
Sebelum saya menceritakan pengalaman saya dan pertanyaan pikiran saya saat membaca buku ini saya perkenalkan dulu pemeran utama buku ini adalah Amanda dan Dawson. Amanda, remaja SMA yang hidup dengan mamanya yang over protect dan selalu menghakiminya (dari sudut pandang Amanda). Sedangkan Dawson seorang montir yang berusaha hidup dengan baik karena memiliki nama keluarga yang terkenal sebagai penjahat dan pembuat onar. Mereka memiliki basecamp yaitu di bengkel tempat seorang tua beranama Tuck mempekerjakan Dawson dan menganggapnya sebagai anak.
Setelah perpisahan sekian lama tahunnya, mereka akhirnya dipertemukan kembali saat pengacara Tuck menghubungi Amanda dan Dawson untuk kembali ke tempat itu. Bengkel. Tuck telah meninggal dan meminta agar Dawson dengan Amanda menyebarkan abu jazad Tuck di rumah tempat Tuck hidup dulu bersama cinta sejatinya. Istrinya. Disinilah puncak konflik buku ini. Amanda yang sedang dalam masalah dengan suaminya yang belakangan ini menjadi pemabuk karena stres kehilagan anak bungsu mereka bertemu dengan cinta masa remajanya yang juga cinta sejatinya. Amanda ingin bahagia dan ingin kembali memperbaiki hubungan bersama Dawson. Di sisi lain dia juga mulai lelah dengan suaminya dengan kehidupan pernikahannya yang mulai pesimis. Bahkan Amanda tidak pulang ke rumah. Dia menginap di rumah Ibunya. Dia sangat merindukan Dawson dan merindukan perasaan penuh karena bersama orang yang tepat. Namun di sisi lain dia telah menikah dan ada anak yang harus dia jaga. Menjaga perasaan mereka dan juga masa depannya. Baginya walaupun pernikahannya pesismis namun dia harus menyelamatkan pernikahannya demi anak-anaknya.
Saat saya membaca buku ini, bertepatan dengan drama Korea tentang kehidupan pernikahan. Drama ini cukup booming saat itu karena pemeran "pelakor"nya cantik. Di sini saya tidak akan membahas pelakor hehe. Saya ingin membahas pride kita sebagai perempuan. Kita mandiri dan berhak untuk bahagia. Namun perlukah kita mengorbankan itu untuk sesuatu yang lebih besar misalnya pernikahan dan atau anak. Belum juga isu bercerai karena selingkuh atau dituduh menjadi penggoda saat menjadi seorang janda. Apakah yang lebih baik kita pilih? tentu saja kasus setiap orang berbeda sesuai pertimbangan situasi dan kondisi masalahnya masing-masing.
Apakah ada hal lain yang lebih prioritas di atas cinta? Apakah bisa kita menjalani sisa hidup kita dengan perasaan "nyesek" dengan mengorbankan ketidakbahagiaan kita dalam pernikahan demi mempertahankan pernikahan dan anak sebagai alasan? Lalu bagaiamana pendapat orang bahwa jika kita bahagia kita dapat mengurus orang-orang sekeliling kita dengan baik. Dan kebahagiaan itu obat dari segalanya. Kondisi psikologi seseorang yang sering diabaikan demi kepentingan pihak lain. Tidak bisakah kita mndapatkan keduanya sekaligus?
Saya pernah membaca artikel tentang selebriti yang memutuskan berpisah dan menyatakan bahwa anak jangan digunakan sebagai alasan untuk mempertahankan pernikahan jika nantinya kita tidak bahagia. Apakah ini bentuk pembenaran diri?. Karena yang terpenting adalah rasa bahagia saat mengurus anak akan mempengaruhi psikologi anak juga. Lalu jika memilih berpisah, Kenyataan seteah itu adalah menyesal.
Pikiran-pikiran saya ini hanya bentuk overthinking. Membuat cerita menjadi ribet. Namun intinya apakah yang sebaiknya menjadi pertimbangan dominan? Saya sangat senang jika ada teman yang membaca dan memberikan komentar tentang pendapat kalian tentang hal ini. Thanks :)
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
![]() |
Depok, 29 Agustus 2020


Komentar