Review Buku 2 : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat - Mark Manson

Akhirnya, my God,,, saya menghabiskan banyak waktu untuk ini.

Sebelum berganti tahun, review buku ini didedikasikan untuk setiap pribadi yang sudah berjuang di tahun-tahun pandemi. Entah apapun perjuanganmu. Terima kasih masih stand till now, telah melawan dirimu sendiri dan belajar dealing with ur self. 

Setiap inspirasi, wisely advice yang saya temukan setiap buku akan take my time to overthinking first before go ahead to reading.

Long story short, ini buku terpadat kedua yang pernah saya baca sejauh ini. Hampir semua kalimat dan setiap lembar ingin saya kasi tanda stabilo. Saking penasarannya dengan makna asli buku ini akhirnya saya putuskan membeli versi asli. And i feeling grateful for it.

Well, saya percaya sudah banyak sekali teman-teman yang membaca buku ini. 

Buku kedua adalah “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Teman-teman, sadar tidak bahwa terkadang kita membaca motivasi hidup dan kita berpikir bahwa sebelum diberi tahu kita sudah tahu/sudah memikirkan/bahkan sering membaca dan mendengarkan. I mean motivasi yang kerap kita dengar dari para motivator/baca di buku/secara random ditemukan dalam percakapan dengan teman. Saat membaca buku ini pada bab awal, setiap pesan yang ingin disampaikan itu seperti mengkonfirmasi apa yang selama ini saya pikirkan.

Namun setelah membaca dan menggali hingga setengah buku mulai terasa teguran yang menampar saya. Saya memang tipe orang yang bodo amat dan lebih condong ke tidak peka apalagi untuk hal yang bagi saya tidak penting. Dan juga saya tipe orang yang tidak pandai bernegosiasi. Jika Kamu bilang tidak sayapun menerima walau sakit hati tanpa berusaha dulu. Saya terkadang berpikir saya ini tipe orang yang berserah atau bodo amat (negative side) alias pasrah (dalam hal negosiasi).

Buku ini membuat saya mengerti bahwa “bodo amat” yang dimaksud adalah bukan bodo amat yang selama ini saya jalani. Bodo amat di sini adalah if u want something then fight for it, bodo amat dibilang ambisius, bodo amat jika orang lain sudah mencoba dan mereka gagal and they told u about their failure to try those things. Just keep doing it and find the lack by your own and try again with your own method, bodo amat dengan apa pendapat orang tentang ambisimu. This is another kind of pesan jangan gampang menyerah tapi more than that. Bodo amat jika nantinya gagal, yang penting kamu telah berusaha dan jika nantinya u dont get what u fight for at least u’ve tried.

Kebetulan moment saat saya membaca buku ini saat saya berada di fase demotivasi terhadap hidup saya karena kehilangan, dan saya membutuhkan cukup banyak waktu untuk settle my life again from last plan. Buku ini seperti amunisi cadangan saat semua amunisi cadangan sudah habis terpakai.

Banyak contoh yang diceritakan, Saat kamu merasa putus asa dengan hidup kamu (merasa tidak sebahagia/seberuntung orang lain), Pengangguran sulit mendapatkan pekerjaan, Diputuskan kekasih hati yang rasanya seperti ratusan pukulan di ulu hati, Alkoholik yang tidak ada harapan masa depan, Kesetiaan pada pimpinan yang sia-sia dan tidak berarti, nomaden dan belajar menyesuaikan diri dengan budaya baru untuk mencari kebahagiaan.

Bagi saya, membaca buku ini mirip membaca alkitab. Jika kamu ingin merenungkan sebuah ayat, kamu butuh membaca ayat sebelum dan setelah serta konteksnya perlu dipahami. Jadi kamu tidak bisa hanya membaca dan menerima secara mentah apa yang kamu baca pada bagian tertentu.

Berikut beberapa hal yang menarik bagi saya dan akan saya bahas pada buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”


1.     Jangan berusaha for things that u can't control

Sang penulis Mark Manson menggambarkan jangan berusaha ini dengan sebuah ungkapan dari di Texas “Anjing paling kecil menggonggong paling keras”

seseoarang yang percaya diri tidak merasa perlu untuk membuktikan bahwa dia percaya diri. Jika kamu kaya kamu tidak perlu pamer kalau kamu kaya. Justru jika kamu sangat berusaha untuk menunjukan orang lain bahwa siapa kamu maka justru semakin jelas bahwa dalam realita bahwa kamu bukan seperti yang ingin kamu tunjukan. Kamu tidak bisa mengontrol pandangan orang tentangmu. So let them be.

Teman-teman sadar tidak? Semakin kita berusaha menunjukan bahwa kita orang baik, kita hebat, kita bahagia, kita kaya semakin kita terlihat bukan itu. Jadi jangan berusaha. Cukup jadi dirimu apa adanya saja. Jika Kamu marah tunjukkan, jika kamu sedih tidak mengapa kamu menangis. Tapi jangan lupa bangkit kembali dan menjalani realita. Dunia tidak akan berhenti untuk menunggumu. 

Bodo amat di sini adalah berani menerima dan menghadapi setiap kenyataan pahit yang dunia berikan kepada kita dan saat itu tidak sejalan dengan harapan dan rencana kita serta berani mengambil tindakan atas keputusan kita atas kenyataan itu. Jika boleh mengutip salah satu judul drama Korea “It’s Okay To Not Be Okay”.

 

2.     Kebahagiaan itu masalah

Pada bagian ini hal yang paling menarik bagi saya adalah pilih perjuangan Kamu.

Setiap keputusan yang kamu ambil dalam hidup Kamu adalah perjuangan kamu.

  •  Kamu memilih untuk merantau itu adalah kebahagiaanmu dan itu juga perjuanganmu. Kamu memilih untuk berjuang untuk sesuatu yang penting dan kehilangan banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga
  •  Kamu memilih mengorbankan mimpimu demi hal yang lebih penting itu juga perjuanganmu dan kebahagiaanmu
  • Kamu memilih untuk tidak merantau agar memiliki banyak waktu dengan keluarga itu pilihanmu dan itu juga kebahagiaanmu serta perjuanganmu
  • Kamu memilih untuk menikah muda dan kehilangan waktu bersenang senang dengan dirimu itu kebahgiaannu dan pilihanmu
  • Kamu memilih menikmati masa mudamu dan tidak menikah muda itu kebahagiaan dan perjuanganmu
  • Kamu memilih tidak/belum memiliki anak setelah menikah itu kebahagiaanmu dan perjuanganmu
  • Kamu memilih memiliki anak setelah menikah dengan jumlah tertentu atau jenis kelamin tertentu itu kebahagiaanmu dan itu perjuanganmu
  • Kamu memilih menjadi istri dan ibu rumah tangga itu kebahagiaanmu dan itu perjuanganmu
  • Kamu memilih menjadi wanita karir dan menjadi istri & ibu itu kebahagiaan dan perjuanganmu
  • Kamu memilih untuk kehilangan waktu bersama keluarga agar dapat memenuhi kebutuhan mereka itu juga itu kebahagiaanmu dan itu perjuanganmu

Tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang memaksamu atau menekan kamu untuk memilih jalan hidupmu. Kamu dengan berbagai pertimbangan memilih itu. Maka berbahagialah dan nikmati proses perjuanganmu. Oleh karena itu, no one can compare kebahagiaan seseorang berdasarkan pengalaman pribadi. Orang yang memilih merantau bukan berarti lebih bahagia dari yang tidak merantau begitu pula sebaliknya. Orang yang belum/tidak memiliki anak belum tentu tidak bahagia dibandingkan orang yang sudah memiliki anak setelah menikah. Orang yang tidak/belum menikah belum tentu tidak bahagia seperti mereka yang sudah menikah. Kita hanya berbeda prioritas seiring waktu berjalan dan kamu hanya perlu bersyukur dengan apa yang kamu punya. Bertanggungjawablah pada setiap keputusanmu agar terbentuk integritasmu sebagai jati dirimu.

 

3.     Kamu tidak istimewa

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian kedua bahwa setiap orang memiliki perbedaan prioritas. Jadi jangan bersikap seolah-olah paling benar, paling menderita, paling spesial, kamu paling tidak bahagia, dll. Karena value setiap orang itu sama. Pada buku ini dijelaskan bahwa pengahargaan seseorang bukan dari bagaimana pengalaman positifnya namun dari bagaimana pengalaman negatifnya. Kamu tidak perlu menyembunyikan sisi terburukmu agar terlihat baik bagi orang karena justru semakin kamu berusaha untuk menjadi istimewa kamu semakin menderita dengan sisi burukmu dan kamu bahkan tidak bisa menerima sisi burukmu. Terkadang seseorang menganggap dirinya terlalu istimewa sehingga berhak menerima sesuatu tanpa berusaha. Terkadangpun orang merasa paling menderita tanpa melihat sekelilingnya dan bersyukur akan apa yang dia punya adalah menjadi harapan beberapa orang. Kita tidak istimewa maka terimalah sisi buruk dan baik dalam dirimu dan lakukan sesuatu untuk itu. Berbahagialah dan nikmati jalan hidup yang telah kita pilih. Pertemanan yang simple, membaca buku, pacar yang cuek, tertawa dengan orang-orang terkasih, berbagi, mengurus anak, menyelesaikan pekerjaan rumit, jatuh cinta, patah hati, suami yang menyebalkan, berjuang mempertahankan hubungan and so on.


4.     Nilai penderitaan

Pada part ini Mark Manson bercerita tentang seseorang yang ditolak dari group musiknya semalam sebelum penandatanganan kontrak untuk menjadi musik band rock besar yang kemudian membentuk sebuah group musik rock yang mendunia. Namun yang paling menarik bagi saya adalah  bagian nilai-nilai sampah. Penulis menyebutkan nilai-nilai tersebut adalah:

-   Kenikmatan sebagai tuhan palsu. Penulis menyampaikan bahwa kenikmatan adalah bentuk kepuasan yang paling dangkal dan jika kita berfokus pada itu maka kita akan berakhir cemas. Saya berpikir bahwa kenikmatan seperti apa yang menjadi fokus kita? Kenikmatan setelah menyelesaikan suatu tantangan besar dengan put a lot of effort on it berbeda dengan kenikmatan yang kita peroleh secara instan. Tapi mengapa mie instan yang dimasak orang lebih nikmat dari pada yang kita masak sendiri? Padahal kita tidak mengeluarkan tenaga untuk itu. Ada dua hal yang saya percayai bagaimana kita berusaha medapatkan sesuatu adalah dengan membayar dengan uang atau waktu. Pilihannya ada pada kita.

-   Kesuksesan material. Orang membuat standar kesuksesan dengan berapa uang yang dia hasilkan dan berapa banyak barang berharga yang dia punya. The question is apakah dengan memiliki semuanya kita bahagia? dan apakah kita merasa sukses jika memiliki itu semua? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di dunia ini tidak bisa memperoleh sesuatu tanpa uang tapi jangan fokus pada uang hingga membuatmu lupa menikmati uang yang kamu cari bersama orang-orang yang kamu kasihi.

-   Selalu benar. Fakta yang terjadi bahwa orang yang selalu ingin terlihat benar menutup dirinya untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Menghalangi diri untuk belajar menerima kesalahan dalam diri kita dan kesempatan untuk bertumbuh.

-   Tetap positif. Ada teman saya sering mengatakan kepada saya “Mit, gw pengen selalu positive kayak lu” Saya mau bilang bahwa respon positive saya adalah hasil dari overthinking dan sebenarnya respon positive saya kadang hanya sebuah reaksi untuk mengkuatkan diri saya atau orang di sekitar saya. Ini menjadi masalah bagi saya. Dalam buku ini dijelaskan bahwa selalu berpikiri positif merupakan pengingkaran terhadap emosi negatif yang justru menjadikan kita susah move on. Dalam hidup ini sangat wajar kenyataan tidak sejalan dengan rencana dan harapan kita yang membuat kita kesal, kecewa, sakit hati, hilang arah, dan apapun ketidakstabilan emosi.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa jika senang berbahagialah, jika sedih menangislah, dan jika marah ekspresikan bentuk kekesalanmu dengan cara yang dapat diterima. Tidak ada yang salah dengan marah, yang salah adalah cara yang salah mengekspresikan kemarahan itu sendiri.

Saat kita memaksakan diri kita untuk tetap positif kita menutup kesempatan kita untuk mengalami pengalaman emosi dan menutup kesempatan untuk menyelesaikan masalah itu. Ini juga merupakah salah satu hal yang sedang saya perjuangkan dalam diri saya.


5.     Kita akan selalu memilih

Saat kita memilih jalan hidup kita maka kita sudah siap menghadapi masalah apapun yang akan kita hadapi di sana. Namun ketika suatu masalah datang secara terpaksa dan bertentangan dengan tujuan kita maka kita akan menjadi korban dan merasa sedih. Saya pahami ini sebagai jika terjadi lack antara ekspektasi dan realita dari tujuan hidup yang telah kita pilih maka kita kembali dihadapkan pada pilihan. Setelah mengambil suatu keputusan kita dihadapkan kembali kepada keputusan yang lain. Seperti pada part pertama saya jabarkan begitu banyak contoh pilihan hidup kita dan setiap pilihan itu pasti akan mendatangkan masalah. Kita hanya akan memilih masalah mana yang mau kita hadapi.

Dalam masalah yang saya hadapi saya memilih untuk bertahan dan berusaha mempertahankan apa yang telah menjadi pilihan saya, saya tidak peduli apa hasilnya. Sangat wajar saya mengekspektasi sesuatu yang baik namun jika nantinya saya gagal, setidaknya saya telah berusaha dan tidak hanya pasrah dan menerima keadaan. Kita secara pribadi bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah kita ambil, atas segala hal dalam hidup kita, tidak peduli seperti apa kondisi di luar diri kita. Kita memilih jalan kita dengan secara sadar, bertanggungjawab dan mengendalikan secara sadar, ataupun menafsirkan/merespon masalah hidup kita secara sadar. Memilih untuk tidak peduli juga merupakan repson. Dengan begitu kita menjadi fokus pada tujuan kita dan tidak melihat orang lain sebagai lebih rendah atau lebih beruntung dari kita.

Secuek dan setidak pedulinya kita, pasti kita memiliki sesuatu untuk dipedulikan. Priototas yang mana yang akan kita pilih untuk menaruh perhatian kita? Apa yang ingin kita pedulikan? Nilai apa yang kita pilih untuk menjadi dasar kita merespon masalah yang timbul hasil pilihan hidup kita? Ukuran apa yang kita pakai untuk mengukur value kebahagiaan kita, Apakah pilihan kita benar?


6.     Kita pasti keliru menilai suatu hal

Hati-hati dengan apa yang kita yakini. Ini adalah salah satu bagian pada chapter ini yang saya kasi tanda stabilo. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Seperti halnya saya saat membaca buku ini serta teman-teman pembaca yang juga membaca bukunya dan tulisan saya. Prioritas terbesar pikiran kita dipengaruhi oleh pengalaman kita, menghasilkan respon dan point of view yang berbeda beda. Kita dapat sharing nilai yang kita percaya dan berpengaruh dalam pengalaman hidup kita tapi jangan sampai memaksa seseorang untuk juga mempercayai itu atau memiliki respon yang sama dengan kita. Jika kamu tipe orang yang kalau ditanya langsung bercerita semua cerita hidupmu, maka jangan mengekspektasi orang lainpun demikian denganmu. Saya percaya kepada anda, belum tentu anda percaya kepada saya. Dalam suatu lingkungan/kelompok pertemananpun demikian. Kita menjadi akrab karena memiliki beberapa kesamaan. Topik yang sama, kebiasaan yang sama namun tidak semua hal sama. Saya percaya respon kita pada teman satu dengan yang lainnya berbeda. Derajat kepercayaan kita kepada teman yang satu dengan yang lainpun berbeda walau kita dalam satu kelompok pertemanan yang sama. Teman-teman satu kalimat yang sudah saya tanam dalam pikiran saya bertahun-tahun selama saya merantau namaun ini cukup sulit saya lakukan yaitu "apa yang baik menurut saya belum tentu baik buat orang". Setiap orang memiliki alasan tertentu untuk memutuskan dan menilai sesuatu berdasarkan pengalaman mereka. Jadi, di dunia ini salah atau benar itu relatif.


7.    Kegagalan adalah bahan bakar agar kita menjadi lebih baik dari kita yang sebelumnya

“Express my self honestly to others”. Saat kita menjadi diri kita apa adanya maka setiap pembicaraan yang baru, setiap hubungan yang baru, membawa tantangan dan kesempatan yang baru untuk mengekspresikan diri kita secara jujur. Pembelajaran akan nilai kehidupan ini akan terus berlangsung seumur hidup kita. Ciptakan standart kebahagiaan/kesuskesesan kamu sendiri. Saat kamu gagal, maka kamu akan berusaha bangkit lagi untuk mencapai apa yang membuatmu bahagia bukan apa yang membuat orang terkesan dengan pencapaian kita.

Pada bagian “derita adalah proses” penulis bercerita tentang seorang Psikolog asal Polandia bernama Kazimierz Dabrowski meneliti para penyintas Perang Dunia II, mereka meyakini bahwa derita perang itu membuat mereka trauma namun membuat mereka menjadi orang yang lebih baik, bertanggung jawab dan lebih bahagia. Prinsip “lakukanlah sesuatu” mengajarkan saya bahwa tidak selalu melihat segala sesuatu hanya dari sisi positif dan berserah dengan keadaan saat saya gagal. Apapun hasil akhirnya lakukan dulu sesuatu, setidaknya saya berusaha mempertahankan nilai yang saya percayai.


8.     Pentingnya mengatakan “tidak

Kita tidak memiliki kewajiban untuk selalu meng"iya"kan segala sesuatu yang datang kepada kita. Kita juga tidak memiliki kewajiban untuk disukai semua orang karena toh tidak semua orang juga kita sukai. Apapun yang orang lain pikirkan tentang kita itu diluar tanggung jawab kita dan kendali kita. So, fokuslah pada diri sendiri. Faktanya bahwa saat kita dapat berkata tidak, kita dapat juga mengerti dan menerima saat kita mengalami penolakan dan hal tersebut membuat hidup lebih baik. Jika kita sudah selektif dalam memilih nilai kita dan berkata tidak pada nilai yang dipercayai orang maka kitapun dapat menerima perbedaan pendapat orang terhadap kita.

Batasan. Dalam hubungan kita dengan orang lain kita memiliki batasan. Pahami batasan-batasan itu. Jangan paksakan nilai hidupmu kepada orang. Budaya kita yang terlalu sosialis akhirnya membuat kita menjadi banyak basa basi dan berlebihan, kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan lulus? Udah lulus kok belum kerja? Sudah punya anak laki kapan punya anak perempuan atau sebaliknya?Tidak semua orang dapat terbuka kepada semua orang untuk hal-hal yang bersifat pribadi seperti pertanyaan sebelumnya. Kamu tidak pernah tahu apa yang dia perjuangkan dan apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya, dan prioritas kita selalu berubah sesuai dengan perubahan kenyataan hidup.


Teman – teman pembaca tidak sadar saya sudah menulis 7 halaman dan saya berharap kalian dapat menyediakan waktu kalian untuk membaca buku ini karena begitu banyak nilai yang dapat kalian temukan dalam buku ini. Bagi teman-teman yang sudah pernah membaca buku ini saya sangat menghargai jika ada yang mau sharing pengalaman kalian membaca buku ini pada kolom komentar.

 

Salam,

Mita’s

Setiabudi, 31 Desember 2020


Sumber Gambar : Google image




Komentar

Herlyn mengatakan…
Done :)

Thanks untuk review manis dipenghujung tahun
Dan baru kelar baca awal tahun ini,

Pertahankan review dari seseorang dgn cara berfikir yg unik ini..biar pembaca jg bisa menilai apa yg mereka baca atau liat tiap harinya dari sisi yg berbeda jg..

Thanks Mita
Mita's Note mengatakan…
Aw terima kasih Ica sudah mampir 😊🙏

Postingan populer dari blog ini

Ba

Review Buku 1: The Best Of Me